......................................................................................................
Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian lapangan. Datanya diperoleh dilapangan sesuai dengan tujuan penelitian. Sebagai jenis penelitian lapangan, metode yang akan dipakai adalah mentode deskriptif kuantitatif. Dengan perkataan lain, data yang diperoleh dari hasil penguasaan relasi makna Bahasa Indonesia siswa kelas X SMAS Muhammadiyah Kendari, akan direalisasikan dan diolah dengan menggunakan angka-angka dan akan ditabulasi menggunakan rumus statistik serta penjelasan secara detail.
 
3.2 Populasi dan Sampel

  3.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAS Muhammadiyah Kendari yang terdaftar dalam tahun ajaran 2011/2012.

3.2.2 Sampel

Jumlah populasi pada kelas siswa kelas X SMAS Muhammadiyah Kendari berjumlah 120 orang siswa yang terbagi menjadi 4 kelas, yaitu X1, X2, X3, dan X4. Dari empat kelas tersebut, siswa yang akan ditarik sebagai sampel hanya 25% dari keseluruhan jumlah populasi siswa pada keseluruhan siswa kelas X SMA tersebut (stratifield random sampling). Jadi siswa yang akan dijadikan sampel berjumlah 30 orang siswa.


Baca Selengkapnya di sini
 ..................................................................................................................................................................
 Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting bagi siswa. Keterampilan menulis siswa harus terus ditingkatkan, terutama keterampilan menulis surat resmi. Pada siswa SMP kelas VIII misalnya, diharapkan dapat menulis surat resmi dengan benar sesuai aturan yang ada dalam penulisan surat resmi. Dalam keterampilan menulis, ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung oleh ketepatan bahasa yang digunakan (Depdiknas 2003: 5).

Pembelajaran menulis di Sekolah Menengah Pertama perlu mendapat perhatian dari para guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Ketika dihadapkan pada pembelajaran menulis surat resmi, siswa selalu mengalami kesulitan terutama dalam penggunaan bahasa. Hasil tulisan siswa sebagian besar lemah dalam masalah kebahasaan dan teknik penulisan. Selama pembelajaran menulis, siswa kurang memperhatikan aturan-aturan yang ada dalam keterampilan menulis sehingga menyebabkan lemahnya keterampilan siswa dalam menulis surat resmi.

Selengkapnya baca di sini
SMA Negeri 7 Kendari
Tegang, takut, was-was, cemas, setidaknya itulah yang dirasakan oleh siswa-siswi yang akan menghadapi Ujian Akhir Nasional di Tahun Pelajaran 2011-2012 ini. namun, semoga ada yang menanggapinya dengan penuh rasa percaya diri dan berani. Untuk mencapai rasa percaya diri ini, pastinya dibutuhkan usaha yang keras, yakni dengan cara belajar, belajar, dan belajar (plus berdoa juga nah).

Oleh karena itu, saya mau bagi-bagi info nih tentang jadwal Ujian Nasional 2012 dan (yang paling penting) Kisi-kisi Ujian Nasional 2012 (mulaimi senyum-senyum setan lagi,,ckckck). Baiklah, ini dia infonya.
A . Latar Belakang
Kata demokrasi adalah langkah yang tepat untuk menggambarkan kebebasan manusia menyampaikan aspirasi dan keinginan untuk memilih. Kata “demokrasi’ berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan. Sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem demokrasi menjadi landasan dasar bagi mahasiswa untuk mengekspresikan keinginan dan harapan untuk melakukan proses pembelajaran. Proses belajar yang dilakukan oleh mahasiswa di dalam civitas kampus memiliki sifat progresif ke depan untuk melakukan perubahan.
Harapan yang besar akan terjadinya suatu perubahan menjadi titik tolak untuk berfikir dan mengintrospeksi diri sebagai  refleksi terhadap gerakan yang dilakukan oleh suatu lembaga. Gerakan yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Daerah (HMPS PBSID) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo (FKIP Unhalu). Dalam satu tahun terakhir ini butuh suatu tongkat estafet untuk kelanjutan menuju perubahan. Tongkat estafet yang dimaksud adalah terciptanya regenerasi kepengurusan untuk melanjutkan rencana membangun pondasi yang kokoh di dalam tubuh HMPS PBSID FKIP Unhalu yang di dasari oleh mahasiswa PBSID. Untuk terciptanya regenerasi tersebut, maka dibutuhkan mediasi yang menjadi sarana bagi mahasiswa, mediasi yang dimaksud adalah Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua HMPS PBSID FKIP Unhalu. Pesta demokrasi menjadi pilihan utama bagi mahasiwa dalam mengekpresikan dirinya dan kemampuan intelektualnya.

Untuk selengkapnya, baca di sini
Hariyono Usman
Mahasiswa FKIP Universitas Haluoleo Sultra,
e-mail: hariyonousman@yahoo.co.id

Abstrak: Masalah terletak pada tenaga pendidik yang menjadikan guru seperti pilihan terakhir yang juga berpengaruh pada proses belajar mengajar di dalam kelas. Sehingga sebagian besar peserta didik di negeri ini tidak mempunyai minat yang tinggi dalam belajar. Tujuan penulisan untuk mengetahui bagaimana kompetensi guru yang profesional dalam meningkatkan kualitas belajar. Metode kajian meliputi: perumusan masalah, studi pustaka dan penarikan masalah. Hasil kajian berupa kompetensi yang harus dimiliki guru dengan penuangan empiris dan efektif yaitu; (1) personaliti guru, (2) memahami karakter siswa (3) menjadi profesional, manusiawi, kemasyarakatan, (4) menumbuhkan motivasi belajar, dan (5) mengembangkan model pembelajaran serta evaluasi pembelajaran.
Kata kunci: profesionalisme guru, kualitas belajar mengajar, pembelajaran, siswa (peserta didik).

PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS YANG TIDAK GRATIS

Pada Hari Pendidikan di tahun 2009 lalu, masyarakat dijanjikan dengan pernyataan “Tahun 2009 sekolah gratis.” Itu merupakan salah satu iklan sekolah gratis di stasiun televisi. Melalui media televisi, koran dan radio, artis iklan gencar mempromosikan program pendidikan, yakni sekolah gratis sebagai pendukung utama Wajib Belajar Sembilan Tahun. Munculnya iklan gratis itu paling tidak membuat masyarakat sedikit lega. Paling tidak, di tengah lesunya perekonomian, program sekolah gratis amat membantu warga miskin. Namun pada kenyataannya, iklan pendidikan gratis mengandung sejumlah persoalan. Dari sisi kata gratis, benarkah pendidikan dapat benar-benar gratis. Masyarakat menafsirkan kata gratis alias tidak perlu membayar sama sekali, sementara penjelasan Mendiknas Bambang Sudibyo (27/4) bahwa yang dimaksud dengan pendidikan gratis hanyalah pembebasan dari biaya SPP. Bukan gratis versi masyarakat, melainkan versi pemerintah. Tetap ada pembiayaan-pembiayaan pribadi. Artinya, uang gedung, pengadaan buku, perlengkapan sekolah, ekstrakurikuler, ujian sekolah, bahkan praktikum pasti dibebankan. Ironisnya,